Qoryah Thoyibah: Potret Sisi Lain Proses Pendidikan

BLOG INI PINDAH KE

HTTP://MYFIKR.WORDPRESS.COM

Pendidkan di Indonesia merupakan aset penting masa depan bangsa ini. Pendidikanlah yang dapat menjauhkan kemiskinan, kebodohan, dan ketidakadilan pada bangsa ini. Serta pendidkan yang akan meregenerasi para kader baru pemimpin bangsa ini ke depannya. Menurut Inkeles, pendidikan merupakan faktor yang terpenting yang mencirikan manusia modern. Manusia yang mampu berpikir lebih rasional, maju dan orientasi ke depan. Di tengah pentingnya arti dari pendidkan, justru para pemimpin bangsa ini menatap sebelah mata terhadap pendidkan. Di satu sisi, pandangan yang menyatakan bahwa pendidkan Indonesia itu bagai barang lux, mewah karena mahal, membuat masyarakat bersikap pesimis dalam menggapai pendidikan.

Di tengah persoalan yang melanda tersebut jauh di daerah Jawa Tengah, tepatnya di daerah Desa Kalibening, Salatiga, berdiri sebuah sekolah komunitas bagi para anak-anak di desa tersebut. Qoryah Thoyibah, nama sekolah komunitas yang dibentuk atas gagasan Bapak Burhanuddin ini bukanlah sekolah-sekolah formal seperti kebanyakan sekolah yang ada. Sekolah yang didirikan untuk menampung para anak-anak dari orang tua yang mengalami kesulitan ekonomi tetapi mempunyai semangat untuk mengenyam pendidikan ini merupakan sekolah terbuka yang mempunyai segudang catatan prestasi yang luar biasa. Bukan sekolah terbuka yang hanya cenderung sebagai lembaga pembagi-bagi ijazah, tetapi di sekolah ini semua warganya selalu berusaha mengelola proses pendidikannya secara serius. Di sekolah ini para siswa belajar menurut apa yang mereka sukai dan inginkan.

Veni, salah seorang murid si sekolah ini mengaku merasa lebih enjoy bersekolah di tempat ini karena dapat lebih bebas memilih dalam menggarap ilmu-ilmu mana saja yang ingin ia pelajari. Orientasi pendikan independen dan pengimplementasian intelektual yang diterapkan di sekolah inilah yang memacu semangat dan kompetensi belajar para siswanya. Maka tidak aneh jika karya-karya hasil proses belajar dapat terimplementasi seperti buku yang ditulis oleh Veni yang sudah mencapai 6 judul sekarang.

Qoryah Thoyibah merupakan satu potret dari berhasilnya pendidkan untuk memajukan potensi siswanya. Kebebasan yang diberikan kepada para siswa di sekolah ini untuk memacu potensi diri yang merka kenali inilah, yang membuat kreatifitas dan potensi benar-benar berkembang sehingga lahirlah output-output dari proses pendidikan yang nyata. Guru yang memposisikan dirinya sebagai pendamping blajar membuat siswa tidak pernah merasa canggung, malu atupun takut untuk selalu berkonsultasi serta berkomunikasi kepada siswanya sehingga semakin memacu siswa untuk dapat bekompetensi dan berkarya. Rasa nyaman dan semngat yang mengalir dari dalam diri bukan karena tekanan ataupun paksaan dari luar membuat setiap siswa merasa betah untuk selalu belajar dan belajar, menggali setiap potensi yang ada padanya dan mengembangkannya.

Keberhaasilan pendidkan bukan terletak pada seberapa banyak finansial yang ada akan tetapi pada sistem yang menggerakkan pendidikan tersebut. Pendapat ini sudah dibuktikan oleh Qoryah Thoyibah, bukan selalu uang yang memajukan mereka tetapi sistem yang berjalan sistematis dan fungsionallah yang mendorong prestasi-prestasi mereka. Inilah yang belum diterapkan di sistem pendidkan kita, sistem yang berjalan secra sistematis dan fungsional, bukan sistem yang selalu berubah-ubah ataupun tetap di tempat.

Undang-undang sistem pendidkan di Indonnesia yang hanya mementingkan unsur kuantitatif menjadi satu maslah yang lain juga. Teori “kuantitas akan melahirkan kualitas” seakan dipegang kuat-kuat oleh para penyusun kebijakan pendidkan yang justru hanya semakin jauh dalam menerjemahkan makna pendidikan itu sendiri. Akibatnya buah dari itu semua, kebijakan-kebijakan yang salah dalam menginterpretasi makna pendidkan pun lahir. Mulai dari kebijakan UAN yang serasa mengeringkan proses pendidikan ataupun kebijakan mengenai RUU BHP yang justru akan mengkomersialkan pendidikan akibat benih-benih kapitalis yang mulai masuk serta kebijakan lainnya yang justru akan semakin mengkerdilkan pendidkan.

Satu langkah yang dapat kita lakukan untuk merekonstruksi pendidikan sekarang yaitu kembali ke hakikat makna pendidikan, pendidikan itu bukanlah suatu “komoditas” yang HANYA mengejar unsur-unsur kuantitatif saja tetapi juga lebih ke unsur kualitatif, untuk memanusiakan manusia.

Advertisements
This entry was posted in Opini and tagged . Bookmark the permalink.

3 Responses to Qoryah Thoyibah: Potret Sisi Lain Proses Pendidikan

  1. fiana says:

    aku tertarik ma sekolah ni… sebenernya sih q pengen tp kan rmhq jauhh dr salatiga.
    sekolah ni bagus bgt, keren lagiii!!!!!

  2. gandi says:

    Nih sekolah Kereeen abiz…
    kebetulan tanggal 8 Mei 2009 gw n tmn2 Jurusan Ilmu Agama Islam-UNJ sudah berkunjung kesana..
    Salut bwt Pak Bahrudin n siswa2 qoryah thoyibah..
    salam dari anak2 UNJ.

  3. lilix says:

    wow kereen BGT. klo mo liat2 boleh kan…………..?
    wah temen2 pada pingin berkunjung niiiiiiiiiiih..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s