TASHFIYAH AGAMA

Peristiwa aksi teror yang terjadi di Mumbai, India merupkan sebuah coretan hitam terhadap keamanan dan ketertiban dunia. Aksi teror yang melibatkan para militan ini telah mampu merenggut korban jiwa sebanyak 130 orang. Ini mengidentifikasikan bahwa terorisme belumlah berakhir. Aksi terorisme yang mulai menggema pasca peristiwa 11 September telah membuat banyak masyarakat dunia dirundung akan rasa ketakutan. Permasalhan sekarang ini bagaimana solusi dari ini semua. Aksi terorisme yang selama ini berkembang sekarang, semarak disisipi oleh pengatasnamaan “kepentingan” agama. Ini menjadi masalah tersendiri, bagaimana mungkin ajaran agama yang berisi penentraman akan hidup yang damai mengajarkan tindakan buruk seperti ini. Agama yang seharusnya dijadikan sebagai bingkai mengarungi bahtera kehidupan serta merta ternodai oleh aksi terorisme ini. Memang tidak dipungkiri bahwa pelaku dari berbagai tindakan terror selama ini adalah orang-orang yang memiliki pemahaman integritas agama yang cukup baik. Kita lihat saja pelaku pemboman Bali, Amrozi cs, mereka pada dasarnya memiliki kuantitas agama yang baik, seperti hafal Al-Qur’an maupun rajin dalam beribadah. Tetapi persoalannya apakah kuantitas agama itu dilandasi dengan kualitas agama atau pemahaman yang benar. Penitikberatkan proses pendidikan (tarbiyah) yang diterima oleh para pelaku agama itu memang cukup disiplin tetapi sarat akan kesalahan pemahaman agama yang benar.

Untuk itu semua maka yang diperlukan sekarang yaitu pentashfiyahan agama. Proses di mana menata kembali (pemurinian) ajaran agama yang benar, menjauh dari kesalahan interpretasi serta kembali kepada pemahaman yang benar. Pemahaman yang berdasar bukan hanya akan Alqur’an dan Sunnah yang benar saja akan tetapi juga dengan pemahaman para ulama yang benar-benar alim dan kompeten. Pelurusan pemahaman dengan manhaj (metode) yang shahih, yang mengikuti jalan beragama Rasulullah dan para sahabatnya.

Pentashfiyahan agama yang merupakan jalan keluar meredam aksi teror mengatasnamakan agama ini harus mampu menjadi starting point untuk melangkah ke depan. Dengan adanya pentashfiyahan agama yang benar-benar dijalankan maka akan melhirkan suatu proses pendidikan yang tidak salah arah. Penginterpretasian akan suatu hal akan menjadi jelas.

Tashfiyah agama dan selalu dibarengi pendidikan berkelanjutan ini merupkan kunci untuk keluar dari pengatasnamaan agama yang salah. Segala pergerakan yang melalaikan hal ini hanya akan menjadi sebuah gerakan yang keliru. Seperti misal niat untuk pengatasnamaan jihad akan menjadi suatu yang keliru jika ajaran tentang jihad pun belum mendalam bahkan cenderung ada salah dalam penginterpretasian. Maka telah jelas pemurnian akan ajaran agama yang benar merupkan suatu cara yang mampu menjadi vaksin penangkal bahaya teror pengatasnamaan agama ini.

“…kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu,maka kembalikanlah kepada Al-Qur’an dan Sunnahnya, jika kamu benar-benar beriman…”(An-Nisa:59)

Advertisements
This entry was posted in Opini and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s