MEMPATRI MORAL PEMBANGUNAN

Dalam proses pembangunan masalah yang menjadi fundamental saat ini yaitu masalah moral atau etika pembangunan. Banyak mulai terjadi deviasi dalam arah kebijakan pembangunan di negeri kita akibat terabaikanya masalah ini. Sebagian macamnya yaitu pengangguran dan kemiskinan yang semakin meningkat, masalah pemerataan penduduk yang tak kunjung selesai, kesenjangan antara pusat dan daerah sampai rendahnya kualitas SDM. Kesemuanya ini merupakan masalah ketidakadlian atau ketimpangan baik itu secara sosial maupun ekonomi.

Dasar-dasar yang menjadi acuan dalam pembangunan sering dikesampingkan demi meraup keuntungan yang semu. Dan lebih parah lagi ketika pembangunan yang sangat orientasi kepada pragmatis mampu menjatuhkan modal sosial yang ada. Padahal ini merupkan salah satu penyangga pembangunan itu sendiri. Hal ini terjadi karena etika atau moral pembangunan kita yang tidak terpatri di kita semua terutama di para pembuat kebijakan pembangunan.

Pembangunan merupakan proses besar bangsa ini yang tak boleh surut bahkan statis. Proses dalam bentuk membangun dan berbuat untuk lebih maju dan sejahtera, baik itu secara fisik maupun non-fisik.

Kita cukup ironi ketika organisasi dunia mengapresiasikan kita sebagi negara yang proses pembangunan dan demokrasi berjalan secara baik tetapi di satu sisi lain kemiskinan, keterbelakangn dan ketidakadilan masih merekat erat pada bangsa ini. Tetapi apa mau dikata lunturnya moral pembangunan seakan menenggelamkan diri kita di dalam kepentingan-kepentingan individu atau kelompok, sehingga rasa persaudaraan seakan lenyap. Pembangunan akan SDM unggul yang merata terkesampingkan.

Sekarang tampaknya pembanguan kita masih ada di persimpangan jalan, maka perlu adana keterlibatan moral secara global agar dapat menentukan arah pembangunan kita ke jalan yang lebih baik. Para pemimpinnya perlu untuk merenungi kembali paradigma etis yang harus dipegang supaya ada bingkai yang mengatur pembangunan di negeri ini.

Jika bingkai moral pembangunan ini sudah terpatri di setiap para pemimpin, pelaksana pembangunan, serta khalayak ramai maka proses pembangunan tidak akan keluar dari rel yang telah tersepakati. Pada dasarnya moral pembangunan harus dapat membangun keadilan dan perikemanusiaan di segala sektor pembangunan. Misalnya moral pembangunan mencerahkan kita untuk dapat menciptakan keharmonisan antara pembangunan fisik dan non-fisik serta keterpaduan pusat dan daerah. Dimensi pembangunan sosial harus mendapat tempat dalam pembangunan

Menyatukan antara aspek moral dan pembangunan memang bukan hal yang sepele. Atau dalam kata lain bagaimana dapat membangun dengan melibatkan moralitas bukan hal yang cukup mudah. Iming-iming kekuasaan serta pragmatisme menjadi pemisah kedua aspek ini. Akan tetapi perlunya moral dalam membangun merupakan suatu keharusan tersendiri.

Di dalam pembangunan di Indonesia sikap nasionalisme merupakan salah satu obat penawar menyatukan kedua aspek ini. Akan tetapi secara praktis kelemahannya tampak sekali yaitu tidak adanya daya hukum yang mampu mengikat moral pembangunan itu sendiri. Maka sekarang diperlukan suatu kekuatan hukum tersendiri yang mampu membantu nasionalisme dan menghukum para penyeleweng moral.

Konsessus bersama ini diharapkan dapat terus mengikat moralitas pembangunan di para aktor pembangunan ittu sendiri sehingga terpatrilah moral pembangunan di tiap individu.

Advertisements
This entry was posted in Opini and tagged , . Bookmark the permalink.

One Response to MEMPATRI MORAL PEMBANGUNAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s