Resolusi Yang Tak Mengikat

Sudah hampir sebulan serangan agresi Israel terhadap Palestina berlangsung. Sudah 1000 jiwa lebih menjadi korban kejahatan kemanusiaan ini. Anak kecil dan wanita tidak dapat tenang dalam menjalani kehidupannya.

Invansi Israel ini merupakan cerita bersambung dari episode ketertindasan rakyat Palestina di tanah sucinya. Tuduh menuduh antara tentara Israel dan Hamas akan siapa dahulu yang memulai konflik paling besar sejak 20 tahun lalu terus berlangsung hingga sekarang. Israel mengklaim Hamas lah yang lebih dahulu menembakkan roket-roketnya ke pemukiman Israel dan begitu sebaliknya.

Proses perdamaian yang diingikan seakan utopia di kalangan Hamas dan Israel. Proses perdamaian selalu kandas di tengah jalan. Secara umum hambatan dalam penyelesaian konflik dua negara ini yakni pertama, sikap dari negara AS yang cenderung berwajah dua (ambivalen). Di satu sisi sebagai negara yang mempunyai peran yang cukup untuk mengawal perdamaian tetapi di sisi lain AS lebih berat ke arah Israel. Aliran Israel First mendominasi perpolitikan AS dari pada aliran Evehanded.

Kedua, sikap Israel itu sendiri. Historical Theology yang berkembang di warga Israel telah membentuk ideologi dan politik mereka. Mitos-mitos teologi, seperti bangsa terpilih, tanah yang dijanjikan,bangsa tanpa tanah dan tanah tanpa bangsa telah mendorong mereka untuk terus berusaha menguasai jalur Gaza. Ketiga, peran negara-negara Arab yang kurang bekerja sama. Mereka memiliki cara yang berbeda-beda dalam menyelesaikan konflik Gaza ini. Selain itu urusan internal regional juga mempengaruhi negara-negara Arab dalam bersikap.

Suara kemanusiaan dari penjuru dunia akan serangan negara Yahudi ini pun terlontar. Tuntutan penghentian serangan serta gencatan senjata terus bergema di negeri-negeri dunia ini, termasuk Indonesia. Desakan agar PBB mampu bertindak proaktif terus dilakukan. Dan pada Jum’at 9 Januari lalu, DK PBB pun akhirnya mengeluarkan Resolusi 1860.

Resolusi yang intinya menyerukan segera dilakukan gencatan senjata serta mendesak agar Israel menarik semua pasukannya dari Gaza City mendapat persetujuan dari 14 negara PBB. Dengan keluarnya resolusi ini Israel dituntut agar segera menghentikan serangannya. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya.Israel dengan percaya dirinya terus memborbardir pemukiman di Palestina. Resolusi 1860 ditanggapi negara Yahudi dengan apatis disebabkan karena mereka mengklaim hampir mnyelesaikan misi agresinya.

Di sisi lain Resolusi 1860 yang dikeluarkan DK PBB terkesan sangat tidak mengikat. Dalam hal ini resolusi ini hanya berupa desakan dari PBB tanpa diiringi adanya sanksi yang tegas. Seharusnya penerapan resolusi tersebut juga diiringi dengan sanksi yudikasi yang mengikat. Selain itu dalam penerapan Resolusi PBB ini perlu adanya kesadaran sejati dari kedua belah pihak untuk mematuhinya. Akan tetapi political will dari kubu Israel maupun Hamas terlihat kurang. Tercatat tak kurang 80 lebih Resolusi DK PBB yang diabaikan oleh negara Israel.

Mengapa political will itu susah sekali? Salah satu sebab yakni belum adanya power (negara atau lembaga dunia) yang berperan dalam penjagaan political will sampai saat ini. AS, yang diharapkan mampu berperan tetapi realitanya negara ini lebih condong ke arah Israel. Selama Pemerintahan Bush saja, AS sudah melakukan veto sebanyak enam kali terhadap draf resolusi PBB yang berkaitan dengan konflik Palestina–Israel.

Advertisements
This entry was posted in Opini and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s