Dinamika Budaya di Desa Kutajaya

Desa Kutaja, Sukabumi, Jawa Barat menjadi daerah yang terpilih oleh LKMer’s untuk menjadi objek penyelenggaraan kegiatan Baksospen (Bakti Sosial dan Pendidikan) 2008. Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 25-28 Desember, tepatnya di RW 03 ,Desa Kutajaya membawa berbagai pengalaman dan pengetahuan baru di benak masing-masing teman panitia.

Menarik bila kita coba berbagi pengalaman melalui ulasan bagaimana struktur tatanan masyarakat Desa Kutajaya baik itu dalam aspek sosial, ekonomi, budaya, politik maupun yang lainnya. Dengan mengulas beberapa aspek tadi diharap kita mampu mendapat deskripsi tatanan desa Kutajaya itu sendiri. Bukan hanya mendapat deskripsi mengenai fisik tetapi juga non-fisik. Dalam kesempatan kali ini penulis akan memfokuskan bagaimana sebenarnya aspek budaya yang ada dalam struktur masyarakat Desa Kutajaya.

Dalam Masyarakat Desa Kutajaya, etnis yang dominan merupakan penduduk asli daerah Sukabumi, Jawa Barat. Kebanyakan penduduk tingkat ekonominya pas-pasan walau mungkin ada yang beberapa yang lebih. Di Desa Kutajaya ini nilai-nilai budaya secara mentalitas dapat kita lihat dalam kehidupan prilakunya sehari-hari. Dalam kesahariannya, masyarakat asli Desa Kutajaya memiliki semangat gotong royong yang cukup besar. Buktinya kita dapat melihat di mana setiap hari Jum’at diadakan kegiatan “Jum’at Bersih”. Kegiatan ini pun cukup mendapat respon aktif dari masyarakat. Mereka dengan semangat kesadaran dan kekeluargaan bergotong royong membersihkan jalan maupun memperbaikinya.

Satu sisi nilai positif mentalitas masyarakat daerah ini yaitu sangat komunal. Masyarakat hidup dalam suatu komunitas yang saling membutuhkan. Kita dapat saksikan bagaimana kerelaan masyarakat untuk saling berbagi ketika ada kegiatan bersama. Begitupun jika ada keluarga di masyarakat itu yang mengadakan suatu acara, maka masyarakat sekitar mau turut aktif membantu. Mnurut persperktif Durhemian, Desa Kutajaya ini secara ikatan masuk dalam solidaritas mekanik. Ikatan yang terbentuk di antara para masyrakat berdasarkan kesadaran individu maupun norma adat.

Masih banyak sebenarnya budaya mentalitas masyarakat Desa Kutajaya seperti anak-anak sekolahan yang cukup menghargai waktu, serta cukup dominannya wanita bekerja di pabrik daripada laki-laki, dan lain sebagainya.

Nilai-nilai budaya merupakan refleksi akan pendidikan di kehidupan masyarakat. Pendidikan harus mampu membudayakan manusia Indonesia. Penanaman akan nilai-nilai falsafah bangsa melalui pendidikan amat diperlukan sekarang guna menjaga eksistensial budaya lokal.

Dalam menumbuhkembangkan nilai budaya, salah satu cara yang dapat dilakukan yakni melalui pengembangan pendidikan muatan lokal di sekolah. Muatan lokal ini harus mampu menginspirasi para siswanya agar mengenal dan mencintai kebudayaanya. Nilai-nilai budaya yang diajarkan tidak harus bersifat top-bottom, tetapi harus berdasar kemandirian sekolah masing-masing.

Selain itu, dalam pengajaran muatan lokal ini perlu adanya penyeimbangan akan aspek penilaian. Kecenderungan sekarang ini para guru terjebak hanya dalam paradigma kognitif dalam menyampaikan pendidikan nilai-nilai moral dan budaya. Akibatnya esensi makna dari pelajaran itu tidak dapat terpatri. Maka pendidik perlu menyeimbangkan dengan sisi psikomotori serta afektif.

Advertisements
This entry was posted in Catatan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s