Membangun Birokrasi Humanis

Birokrasi, bila mendengar kata itu maka selintas pikiran kita akan tersirat mengenai penyelesaian urusan prosedural administrasi maupun lainnya. Berpindah dari satu meja ke meja lainnya, minta tanda tangan dan lain sebagainya. Sehingga pada saat ini birokrasi terkesan sebagai proses yang melelahkan, ribet maupun menjengkelkan. Sungguh suatu ironi jika birokrasi justru menjadi “tembok penghalang” di tengah fungsinya sebagai jembatan untuk menyelesaikan persoalan.

Konsep birokrasi sebenarnya telah ada sejak lama. Salah satu tokoh yang cukup terkenal akan pemikiran mengenai birokrasi yakni seorang sosiolog dari Jerman, Max Weber. Konsep Birokrasi menurut Weber merupakan organisasi yang berprinsip rasionalitas dengan mengedepankan mekanisme sosial untuk mencapai efisiensi yang maksimum. Weber menekankan akan adanya konsep ideal mengenai birokrasi modern. Konsep ideal birokrasi tersebut dibangun atas prinsp “rasionalitas” yang harus tercermin dalam pembagian tugas/ wewenang yang jelas, perekrutan SDM melalui kualifikasi teknis, dan standarisasi kerja. Ini semua dilakukan supaya menghasilkan birokrasi yang efisien.

Rasionalitas dan efisien merupakan dua konsep yang ditekankan Weber dalam birokrasi. Dalam urusan birokrasi , harus dijalankan dengan tindakan rasionalitas agar tercipta proses yang efsien. Birokrasi harus melihat secara rasio akan keseimbangan antara pegawai profesional dan pelayanan, anggaran dan sarana, mekanisme kerja dengan jumlah pegawai dan lain sebagainya yang semuanya harus berkorelasi dengan baik.

Akan tetapi perlu diperhatikan juga yakni untuk mewujudkan birokrasi yang efisien, ternyata tidak terpaku dengan rasionalitas saja. Ini sebab birokrasi merupakan produk yang tidak terpaku dalam satu konsep tertentu saja. Konsep birokrasi, yang merupakan alat untuk menyelesaikan persoalan, merupakan konsep yang dinamis. Birokrasi merupakan produk kultural yang harus disesuaikan dahulu dengan situasi dan tempat. Sebagai contoh, hierarki dalam birokrasi merupakan konsep yang dinamis. Ia tergantung akan kebutuhan masing-masing tempat dan situasi. Yang ditekankan bukan banyak sedikitnya susunan hirarki yang ada, tetapi lebih kepada proses nantinya.

Maka selain rasionalitas perlu juga akan birokrasi yang berorientasi kepada kemanusiaan. Birokrasi yang humanis, yang mendekatkan diri kepada manusia, mutlak juga diperlukan guna membangun efisiensi serta efektifitas peran birokrasi. Membumikan rasio yang berpaku pada naluri humanis merupakan dasar yang tepat untuk mendekatkan birokrasi pada yang membutuhkannya. Tidak melulu terpaku akan “angka” dalam melihat dan menyelesaikan persoalan. Sehingga nantinya birokrasi tidak hanya menjadi sekedar konseptual belaka, tetapi juga mampu meneropong dan terjun ke daratan praktis di lapangan nyata. Mampu menjawab persoalan tanpa mencipta persoalan.

Advertisements
This entry was posted in Opini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s