Demokrasi dan Pertumbuhan Ekonomi

Demokrasi adalah suatu paham yang telah berkembang cukup pesat di dunia ini. Di mulai dari peristiwa Revolusi Perancis yang menjadi tonggak awal berkembangnya paham demokrasi ini. Demokrasi adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat atas negara untuk dijalankan pemerintahan negara tersebut. Demokrasi juga dapat diartikan sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Demokrasi dalam suatu negara biasanya memiliki pengaruh terhadap setiap segmen bidang dalam negara, baik itu ekonomi, politik, maupun budaya. Kita dapat lihat bagaimana negara Amerika Serikat yang menerapkan sistem demokrasi liberal pada bidang politik memiliki pengaruh terhadap bidang ekonomi yaitu liberalisasi. Lain halnya dengan negara lain seperti Indonesia yakni dengan sistem demokrasi Pancasila maka ekonominya pun dibangun atas dasar demokrasi ekonomi Pancasila. Inilah pada dasarnya pengaruh ideologi terhadap sub-sub sistem dalam tatanan kehidupan negara.

Demokrasi saat ini disebut-sebut indikator perkembangan politik suatu negara. Negara yang demokratis diinterpretasikan bahwa negara tersebut telah selangkah menuju arah kemajuan. Ini merupakan stigma yang cukup berkembang di negara-negara dunia ketiga sehingga cukup banyak sekarang negara yang mulai beralih ideologi menuju demokrasi. Yang menarik untuk dibahas yaitu jika demokrasi merupakan salah satu indikator perkembangan suatu negara, bagaimana sebenarnya korelasi antara demokrasi dengan pertumbuhan ekonomi. Mengaitkan ini penting agar di dapat suatu deskripsi mengenai apa prasyarat menuju demokrasi dan apa prasyarat agar negara mengalami pertumbuhan ekonomi.

S.M. Lipset, seorang ahli sosiologi politik Amerika, memberikan perspektif bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan prasyarat bagi terbukanya peluang demokratisasi di masa mendatang. Tanpa ada pertumbuhan ekonomi, sulit terciptanya pemerintahan dan masyarakat yang demokratis. Menurut lipset, pertumbuhan ekonomi akan membawa ke arah modernisasi. Hal inilah yang akanmendorong masyarakat sipil lebih terorganisir dan kritis, inilah salah satu prasyarat unsur menuju demokrasi. Akan tetapi, dalam perkembangannya muncul antitesis terhadap pernyataan Lipset ini karena ternyata ada beberapa negara yang tidak menunjukkan pertumbuhan ekonomi tetapi tingkat partisipasi masyarakat dalam politik (demokrasi) amat bagus, misalnya, India. Dan ada juga negara yang pertumbuhan ekonomi yang baik sejak dahulu, tetapi tidak menunjukkan pergerakkan ke arah demokrasi, misalnya negara-negara sosialis dahulu.

Di satu sisi ternyata ada postulat yang mengatakan bahwa demokrasi akan mendorong pertumbuhan ekonomi. Ini busa dilihat karena dengan demokrasi maka hak-hak pribadi menjadi terjamin, sehingga mampu mendorong investasi secara optimal. Selain itu Prof. Amartya Sen menganggap bahwa demokrasi merupakan syarat untuk menuju pertumbuhan ekonomi. Bagi Amartya Sen, hakikat pembangunan adalah kebebasan. Ini bisa dicapai bila demokrasi benar-benar diterapkan. Selain Sen juga mengungkapkan pemerintahan yang demokratis cenderung lebih tanggap terhadap masalah-masalah rakyatnya. Hal ini karena dengan demokrasi rakyat memiliki hak untuk mencabut kekuasaan pemerintah, sementara itu pemerintah harus mengakomodir kepentingan rakyat agar legitimasi kekuasaannya tidak hilang.

Korelasi antara demokrasi dan pertumbuhan ekonomi memang menjadi perdebatan yang panjang. Pada tahun 1970-an dan 1990-an negara-negara industri baru dengan pertumbuhan ekonomi baik sebagian besar dari negara otoriter. Misalnya Venezuela, Cina, negara-negara Timur Tengah, dan lainnya. Sementara di India misalnya dengan tingkat partisipasi rakyat tinggi tetapi ekonomi sulit berkembang saat itu. Jika dilihat dari dinamika sekarang maka kami melihat bahwa demokrasi dan pertumbuhan ekonomi memiliki hubungan yang cukup bermakna jika dalam waktu jangka panjang. Hal ini karena dengan jangka panjang maka peluang terbentuknya stabilitas serta berkembangnya empat modal demokrasi semakin terbuka. Empat modal itu yakni physical capital, human capital, social capital, dan political capital. Akan tetapi jika hanya dalam jangka pendek maka demokrasi dan pertumbuhan ekonomi memiliki keterkaitan yang tidak terlalu tampak, bahkan cenderung diinterpretasi dengan kesemrawutan dan ketidakteraturan.

Advertisements
This entry was posted in Catatan and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s